Arsip untuk Inspirasi kategori

Jangan jadi Gelas

Posted in Inspirasi on Mei 17, 2008 by pentonx313

Jangan Jadi Gelas

 

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya. “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

 

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

 

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

 

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

 

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

 

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya. “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?” “Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

 

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

 

Si murid terdiam, mendengarkan. “Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

Dua manusia Super

Posted in Inspirasi on Mei 17, 2008 by pentonx313

                                          Dua manusia super

 

Assalamu alaikum wr wb,

 

Salah seorang teman mengirim posting kepada kami dengan kisahnya yang sangat menyentuh hati. Sehingga membuat kami juga ingin berbagi kisah itu kepada siapapun yang masih memiliki ’hati’…

 

Siang ini 6 February, 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super.
Mereka mahluk mahluk kecil , kurus ,kumal berbasuh keringat. Tepatnya
diatas jembatan penyeberangan setia budi , dua sosok kecil berumur kira kira delapan  tahun  menjajakan  tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang  mereka menawari
saya 
tissue diujung jembatan,dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan
ucapan “Terima kasih Oom !”.Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan Cuma mulai membuka  sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan,menyapa seorang laki-laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya,lagi
lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil
mereka.Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan  tertabrak derai angin Jakarta .. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam  kantong itu,duapertiga terisi  tissue putih berbalut plastik transparan.
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama  dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.
” Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!”  tukas
mereka,tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh riburupiah .” Maaf, nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? ” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng,  lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.”Oom boleh tukar uang nggak,receh sepuluh ribuan?”suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka.sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian foodcourt sebesar empat ribu rupiah.”Nggak punya ,tukas saya !” lalu tak lama siwanita berkata”ambil saja kembaliannya,dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.Anak ini terkesiap,ia  menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti ,  lalu ia  mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget,setengah berteriak ia bilang “sudah buat kamu saja, nggak apa-apa ambil saja!”,namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “maaf mbak, Cuma ada empat ribu , nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !” Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka , uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya . mereka menghampiri saya dan berujar “Om,bisa tunggu ya , saya kebawah dulu untuk tukar uang ke tukangojek!”..”eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !” saya kasih uang itu ke si kecil,ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukangojek.Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya,”Nanti dulu Om,biar ditukar dulu…sebentar “”Nggak apa apa,itu buat kalian” Lanjut saya
“jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga ” anak itu bersikeras” Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha pergi, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat,secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearahsaya.”Ini deh om , kalau kelamaan , maaf ..” ia memberi saya delapan packtissue.”Buat apa?” saya terbengong “Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu”.walau dikembalikan ia tetap menolak .Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya….Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat  ribu rupiah.”Terima kasih Om!”..Dan mereka kembali keujung jembatan sambil sayup-sayup terdengar percakapan ” Duit mbak tadi gimana ..? ” suara kecil yang lain menyahut ” lu hafal kan orangnya , kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin….” percakapan itu sayup-sayup menghilang , saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.
Tuhan…Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain,mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang tissue. Dua anak yang bahkan belum baligh di umur mereka yang masih belia,tapi memiliki hati yang selembut sutra..
Saya membandingkan  keserakahan kita , yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain .

“Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah
yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak”

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan  teman lainnya untuk lebih SUPER.

Itulah sepenggal kisah dari seorang teman yang tergugah nuraninya karena kejujuran dan kepolosan dari dua orang bocah penjual tissue. Orang tua manakah yang tak ingin memiliki anak dengan hati selembut itu , mengerti akan hak orang lain, jujur, tidak serakah, dan tak mengenal putus asa..luar biasa! Itulah akhlak Nabi SAW yang tercermin dari bocah-bocah  belia yang tak berkesempatan untuk sekolah..SubhanAllah..

Siapakah yang mengajari mereka kalau bukan dari orang tua? Siapakah yang mengkondisikan mereka untuk selalu berbuat mulia kalau bukan dari lingkungan keluarga? Kita seperti ditampar oleh tangan-tangan mungil mereka dengan akhlak yang luhur,..semestinya kitalah yang memberi teladan kepada mereka, anak-anak kita dengan akhlak yang mulia..tapi apa yang sering terjadi pada kita? Bahkan tak jarang kita saling memutus tali persaudaraan demi mempertahankan sesuatu yang bukan menjadi hak kita..Ya Alloh,terima kasih telah Engkau ciptakan anak-anak seperti mereka ..semoga Kau bukakan pintu hati kami agar akhlak kami menjadi seperti semulia Nabi SAW yang Engkau perlihatkan kepada bocah-bocah tak berdosa seperti mereka..amiin.

Mungkin sekaranglah saatnya bagi kita mengubah paradigma lama yang selalu menginginkan buah hati kita menjadi anak-anak yang pandai sesuai harapan dan ambisi kita,diganti dengan mengajarkan akhlak yang mulia kepada mereka, karena kepada merekalah semua perjuangan kita akan diteruskan. Mari awali dengan memberi mereka teladan yang baik..

 

Wassalamu alaikum wr wb

Note : bagi pemilik asli naskah cerita diatas kami ucapkan banyak terima kasih